Pola Asuh Anak yang Dikepung Internet : Kendalikan, Jangan Melarang

0
Christin Wibhowo. Foto : unika.ac.id

Oleh : Nugroho

Semaranginside.com, Semarang – Generasi milenial tidak bisa lepas dari internet. Namun, belum tentu benar bila mereka dianggap kecanduan. Hal itu diungkapkan Christin Wibhowo, dosen Fakultas Psikologi Unika yang  juga seorang psikolog.

“Anak milennial sudah dikepung internet sejak mereka lahir, maka itu sudah hal wajar apabila mereka harus sangat akrab dengan internet melalui gawai atau gadget mereka. Namun terkait adanya anggapan anak-anak kecanduan gadget menurut para ahli psikologi masih pro dan kontra, penting untuk melihat kembali apa yang mendasari anak-anak ini menggunakan internet dalam gadget mereka dan yang penting kualitas hidup mereka tidak turun,”jelasnya dikutip dari situs resmi Unika, Senin (22/7).

“Hal penting lainnya adalah mengendalikan bukan melarang. Pola pengasuhan dan pola  pendidikan itu mempunyai rumusan yang dasar yaitu ayah harus berperan utama sebagai pendidik karakter, pencari nafkah, serta mencintai ibu dari anak-anaknya dan sosok ibu sebagai pendamping. Sedangkan para guru adalah pendamping ayah dan ibu. Sehingga dengan memberikan teladan yang baik kepada putra-putrinya, ibarat sebuah kapal penggunaan gadget bisa dikendalikan dan membawa kita ke masa depan yang lebih baik,” tambahnya saat berbicara pada seminar dengan tema Kupas Tuntas Adiksi Gadget, Apa dan Bagaimana Solusinya? baru-baru di kampus tersebut.

Baca Juga:  Gamelan dan Wayang Makin Diminati Mahasiswa di AS

Christin juga menambahkan, menurut Vladimir Poznyak, anggota Departemen Kesehatan Mental dan Penyalahgunaan Obat-obatan WHO, ada tiga ciri utama untuk mendiagnosis seseorang mengalami kecanduan game. Yang pertama adalah adanya kecenderungan mengutamakan game dibanding aktifitas lain. Ciri yang kedua adalah tidak bisa mengendalikan waktu dan yang ketiga yaitu adanya gangguan dalam pribadi.

Maka untuk mengantisipasinya, orang tua atau para guru harus selalu update dan upgrade dengan teknologi digital, serta menggunakan teknologi untuk mempercepat parentingnya dan memanfaatkan teknologi dalam cara komunikasi dengan anak-anak.

Baca Juga:  Dua Mahasiswa Unika Raih Best Paper

Acara seminar yang dilaksanakan di ruang 204 B gedung Antonius Unika Soegijapranata itu dihadiri oleh kalangan pendidik baik itu guru atau dosen, lembaga pemerintah  seperti BNN (Badan Narkotika Nasional), Departemen Pendidikan, LSM, dan sebagainya.

Ketua Center for Addiction Studies (CAS) Fakultas Psikologi Unika Soegijapranata Kuriake Kharismawan dalam penjelasannya mengemukakan perlunya menjalin komunikasi yang baik antara lembaga pendidilan tinggi dengan sekolah sebagai tempat belajar anak terutama dalam hal mencoba saling bertukar pikiran dan mencari solusi terbaik terkait pendidikan dan masa depan anak didik.

“Fakultas Psikologi dalam kegiatannya sering melibatkan para guru dalam dua bulan terakhir. Kegiatan tersebut diadakan oleh CAS Psikologi dua minggu sekali. Tentunya dengan banyak topik dan sasaran utamanya adalah para guru,” terang Kuriake.(nug)

Berikan Komentar

avatar
  Subscribe  
Notify of