Program KB, Gagasan Pak Harto yang Makin Relevan Diterapkan

0
Ilustrasi KB. Foto: Istimewa

Oleh: Daniel P

Semaranginside.com, Medan – Dewi Sartika, seorang ibu muda, berusia 36 tahun, baru saja selesai berbincang dengan anaknya melalui telepon. Raut gembira terpancar dari wajahnya, karena sudah dua pekan dia tak bersama anaknya yang tengah berlibur ke Jakarta.

Anak perempuan semata wayangnya itu, Kezia, tengah menikmati libur akhir tahun pelajaran. Di Jakarta, anak perempuan yang akan menduduki bangku kelas VI SD ini berkumpul dengan sejumlah sepupunya, yang juga datang dari beberapa daerah.

“Kebetulan ada abang saya kerja di Jakarta. Jadi kemarin dia ngajak semua keponakan berlibur,” kata Dewi, Senin (1/7) malam.

Sepeninggal anaknya berlibur, Dewi dan suaminya tinggal berdua di rumah. Terkadang, pada akhir pekan, mereka jalan berdua, makan di restoran favorit atau nonton film terbaru di bioskop. “Hitung-hitung bisa kembali seperti zaman kuliah dulu,” ujarnya.

Dia bercerita, dalam lima tahun terakhir, dia dan suami memilih menggunakan alat KB. Sebab, setelah Kezia lahir, Dewi malah menderita sakit pada kelenjar tiroid. Gara-gara sakit ini, dia gampang panik, gampang sakit, dan daya tahan tubuh melemah. Belum lagi, nyaris tiap malam susah tidur.

Kira-kira tujuh tahun lalu, Dewi terpaksa membuang janin, calon anak keduanya karena tak berkembang dalam rahim. Konsumsi obat yang secara terus menerus menjadi pemicu utama.

“Sampai sekarang, saya dilarang untuk hamil, karena nanti, saat melahirkan justru lebih berbahaya,” ceritanya.

Atas pertimbangan kesehatan dan keselamatan dirinya, serta masa depan anak mereka satu-satunya, Dewi dan suami memutuskan mengikuti program KB. Mereka memilih menggunakan kontrasepsi Intrauterine Device (IUD) atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai KB spiral.

Baca Juga:  TKN Keluhkan Mepetnya Waktu Persiapan Jawaban Gugatan di MK

“Sebenarnya, kami berencana ikut program KB saat anak kedua lahir. Tapi kenyataan berkata lain. Syukur juga, ada alat KB seperti ini, jadi kami tak was-was saat berhubungan intim,” sebut Dewi.

Saat ini, mereka berdua fokus terhadap perkembangan Kezia, yang sebentar lagi beranjak remaja. Tentu dengan kebutuhan yang makin tinggi. Tabungan untuk sekolah Kezia juga mulai disiapkan. Mereka ingin, anak mereka bisa mengenyam pendidikan lebih tinggi dari mereka yang hanya lulus D3.

Bagi sebagian masyarakat, masalah kesehatan memang menjadi alasan utama mereka mengikuti program KB. Bagi sebagian masyarakat pula, alasan ekonomi menjadi pertimbangan utama saat ingin memutuskan mengikuti KB.

Pengamat Sosial dan Pembangunan dari Universitas Sumatera Utara, Fikarwin Zuska mengatakan, semula, saat konsep KB digagas pada zaman Orde Baru, bertujuan untuk mengendalikan angka kelahiran.

“Saat itu, Presiden Soeharto melihat bahwa angka kelahiran bayi cukup tinggi dan cenderung tak seimbang dengan produksi pangan. Sehingga, program KB kemudian digagas menjadi program nasional,” jelasnya.

Program KB semakin relevan diterapkan. Apalagi dengan tekanan ekonomi dan kesehatan yang makin tinggi. Jika dulu, orang bisa beranak banyak, saat ini wajib pikir-pikir. Ini bukan bicara soal hak atau kebebasan orang lain dalam menentukan jumlah anak, tetapi bagaimana anak itu, setelah dilahirkan mendapat perhatian dan perlakuan yang layak.

Biaya pendidikan yang saat ini cukup tinggi, membuat orangtua kewalahan menyekolahkan anak. Jika banyak anak, maka akan semakin kewalahan.

Baca Juga:  Mantan Pimpinan KPK Kecewa dan Khawatir dengan Pansel Bentukan Jokowi

Bukan hanya orang tua, Pemerintah juga bisa kewalahan. Berdasarkan data pada BKKBN, Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP) Indonesia masih tergolong tinggi. Hingga akhir 2018, LPP Indonesia berada di posisi 1,39%, yang berarti setiap tahun ada 4,2 juta sampai hampir 4,8 juta bayi baru lahir di Indonesia. Angka ini turun dari 2010 sebesar 1,49%, tetapi penurunannya sangat lamban.

Bisa dibayangkan, tiap tahun pemerintah harus menyiapkan berapa banyak ruangan kelas baru untuk menampung jumlah 4,8 juta anak itu saat masuk usia sekolah. Tentu ini akan memakan biaya pembangunan yang cukup tinggi.

Ini baru masalah pendidikan. Bicara soal manusia bukan hanya masalah pendidikan, tapi harus di segala lini, terutama kesejahteraan dan kesehatan. Selain itu, banyak anak juga sangat berisiko bagi kesehatan perempuan. Keseringan melahirkan, apalagi dalam jarak yang cukup dekat sangat berisiko bagi keselamatan perempuan.

“Maka saya pikir, dua anak saja sudah cukup. Buat apa banyak anak, toh nanti berisiko ditelantarkan karena tak sanggup membiayai. Jika punya cukup dana, lebih baik dimaksimalkan untuk mengurus anak, sekolahkan anak tinggi-tinggi,” ujar Fikarwin.

Dengan mengikuti program keluarga berencana, masyarakat juga lebih leluasa merencanakan masa depan keluarga, terutama masa depan anak. Anak-anak bisa tumbuh dengan baik, dengan rencana yang baik akan menjamin masa depan yang baik pula.

“Keluarga juga tidak terlalu kewalahan membiayai segala rencana itu, kalau anaknya cuma dua,” katanya. (Aza/Far/INI-Network)

Berikan Komentar

avatar
  Subscribe  
Notify of