Revolusi Industri 4.0 Tantang Generasi Muda

0
Wali Kota Hendrar Prihadi saat mengupas Revolusi Industri 4.0. Foto : semarangkota.go.id

Oleh : Nugroho

Semaranginside.com, Semarang – Wali Kota Hendra Prihadi mengajak generasi muda untuk memandang Revolusi Industri 4.0 dari sisi yang berbeda. Selama ini, mungkin yang muncul adalah kekhawatiran anak akan masa depan. Sebab, revolusi tersebut ditandai dengan adanya teknologi robotika yang mulai menggantikan peran manusia dalam berbagai pekerjaan.

“Kalau bicara tentang revolusi industri 4.0 pasti anak muda bicaranya, aku kerja apa? Padahal sebenarnya banyak peluang yang dapat dimanfaatkan,” ungkap Hendi, Selasa (30/7) pada kegiatan bertajuk Big Question: Society and The City 4.0 di Rumah Dinas Wali Kota Semarang.

Dikutip dari situs resmi Pemkot, dia mengungkapkan, Kota Semarang telah lama menyiapkan diri untuk menghadapi revolusi industri 4.0. Salah satu caranya yaitu dengan menggeser fokus kegiatan ekonomi Kota Semarang ke arah perdagangan dan jasa, khususnya pariwisata.

Baca Juga:  Semarang Layak Sandang Sebutan Kota Pendidikan

Hospitality Industry termasuk tourism industry, tidak dapat digantikan oleh robot karena modalnya adalah keramah-tamahan. Untuk itulah industri ini dibangun di Kota Semarang, untuk memberikan peluang baru yang lebih besar,” jelas Hendi.

Dari forum tersebut sendiri, Hendi mengharapkan banyak anak muda yang tergerak untuk berpartisipasi membangun Indonesia di era revolusi industri 4.0.

“Kemajuan teknologi ini bisa merambah ke semua sektor, contohnya Mas Budiman yang mengelola ribuan BUMDes dan berkembang dengan peningkatan teknologi,” tambahnya menyebut anggota DPR Budiman Sudjatmiko yang juga hadir sebagai pembicara.

Baca Juga:  Bazaar Ramadan Digelar Serentak

Budiman menegaskan, era tersebut justru memberikan peluang baru, khususnya bagi anak muda yang jumlah sangat besar dengan adanya bonus demografi.

“Memang ada konsekuensinya, tapi yang kita bicarakan, ada nggak kesempatannya? Ada nggak peluangnya? Di dalam revolusi industri 4.0, semua orang belajar dari nol lagi. Orang-orang kaya lama, orang pinter lama belum mampu beradaptasi dengan perubahan,” tuturnya.

Lebih lanjut, Budiman menjelaskan jika di era revolusi industri 4.0, uang bukanlah menjadi modal terbesar, tetapi imajinasi yang menjadi kekuatan.

“Contohnya adalah Mark Zuckerberg dan Sergey Brin, mereka tidak memulai Facebook dan Google dengan membuat pabrik, tetapi memulai dengan imajinasinya,” tambahnya.(nug)

Berikan Komentar

avatar
  Subscribe  
Notify of