Sarung Batik Kembali Populer

0
Wali Kota Pekalongan HM Saelany Machfudz saat mencanangkan pemakaian sarung batik bagi ASN Kota Pekalongan setiap Jumat pada acara resepsi Hari Jadi Kota Pekalongan ke 113 di Lapangan Jetayu. Foto : humas.pekalongankota.go.id

Oleh : Nugroho

Semaranginside.com, Semarang – Saat pelaksanaan Shalat Idulfitri kemarin, banyak masyarakat yang mengenakan sarung batik. Itu membuktikan sarung model tersebut kembali populer. Untuk diketahui, sarung batik sebenarnya pernah dikenal pada masa 1950-an.

Salah seorang pemakain sarung batik, Anto mengungkapkan senang mengenakannya.

“Saya beli lewat online. Waktu itu tidak sengaja sebenarnya. Saat browsing muncul iklan penjual sarung batik dan menurut saya bagus. Jadi langsung beli,” ujarnya Kamis (6/6).

Pria asal Pekalongan tersebut kemudian mendapat cerita dari orang tuanya tentang kejayaan sarung batik pada masa lalu.

“Waktu saya tunjukkan sarung batik yang saya beli itu, orang tua saya kemudian cerita kalau dulu sarung seperti itu biasa dipakai banyak orang.Tapi kemudian entah kenapa seolah hilang dan berganti dengan corak garis seperti yang sekarang sering dipakai,” tambahnya.

Beberapa motif sarung batik Pekalongan. Foto : Sarung Batik Mahda Pekalongan

Kota Pekalongan sendiri baru-baru ini bertekad mengembalikan kejayaan sarung batik. Wali Kota Pekalongan HM Saelany Machfudz bahkan menetapkan kewajiban bagi ASN untuk mengenakan sarung batik tiap Jumat.

Baca Juga:  Motif Batik 2 Jari, Terinspiraasi Sandiaga Uno

“Pemakaian sarung batik ini kita wajibkan untuk ASN Kota Pekalongan setiap Jumat dan kami juga mengimbau kepada BUMD, BUMN, Perbankan, Koperasi dan masyarakat untuk ikut memakai sarung batik,” terangnya awal April lalu dikutip dari situs resmi Pemkot Pekalongan.

Kebijakan itu diharap akan meneguhkan Kota Pekalongan sebagai kota kreatif dunia dan melegitimasi Kota Pekalongan sebagai world city of batik.

“Dengan pemakaian sarung batik ini akan memumbuhkan budaya tempo dulu yang pernah dilaksanakan,” pungkasnya.

Sebenarnya bukan hanya Kota Pekalongan saja yang memproduksi sarung batik. Berdasar penelusuran di beberapa situs, beberapa daerah yang memang dikenal memiliki motif khas batik juga memproduksi sarung batik. Sebut saja Lasem, Bakaran (Pati), Kudus, serta Solo. Beberapa situs online menjual sarung batik dengan motof khas daerah-daerah tersebut.

Baca Juga:  Batik Pewarna Alami Mencari Pasar

Wakil Gubernur Taj Yasin pernah memuji produksi sarung batik dari sebuah pondok pesantren di Solo. Dia memuji produk sarung batik karya santri Ponpes Al-Muayyad. Menurutnya, sarung batik tersebut berhasil memikat hati kalangan ulama di luar Jateng.

“Ternyata program ekotren, kula kedah (saya harus) berguru ekonomi Bapak Dian Nafi (Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muayyad). Selain gadah (punya) santri pecinta alam, ugi gadah (juga punya) produk sarung. Ketika debat (pilgub), saya pakai kangge (untuk) promosi. Sak menika (sekarang) Ponpes Jatim banyak yang pakai. Ponpes Cirebon juga ada yang tertarik, saya tunjukkan website-nya,” bebernya ungkapnya saat berkunjung ke ponpes tersebut beberapa waktu lalu.

Bila melihat perkembangan, tren pemakaian sarung batik sepertinya bakal terus naik. Jadi, bagi yang belum punya, segera saja beli. Harganya juga tak mahal, kok.(nug)

 

Berikan Komentar

avatar
  Subscribe  
Notify of