Sebelum Disiram Air Keras, Ini Enam Kasus Kakap yang Ditangani Novel Baswedan

0

Oleh: Ahmad ZR

Semaranginside.com, Jakarta — Kasus penyiraman air keras ke wajah penyidik KPK, Novel Baswedan tak juga kunjung terungkap. Ada fakta baru yang disampaikan oleh im pencari fakta (TPF) kasus penyerangan Novel Baswedan. Jika melihat kasus-kasus kakap yang ditangani Novel, besar kemungkinan penyerangan itu berkaitan langsung dengan kasus yang tengah di tangani Novel saat itu.

Juru Bicara tim pencari fakta (TPF) kasus penyerangan Novel Baswedan, Nurcholis, menduga motif pelaku penyiraman air keras terhadap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu tidak berkaitan dengan masalah pribadi atau keluarga korban. Menurut dia, motif pelaku lebih terkait dengan profesi Novel sebagai penegak hukum.

Nurcholis menyebutkan, ada banyak perkara yang sedang ditangani Novel. Namun, dia tidak dapat membacakan secara keseluruhan karena baru ditemukan enam kasus dengan kriteria high profile. “Ini adalah sekurang-kurangnya, tidak terbatas pada enam kasus saja. Hanya saja, karena keterbatasan tim, kami baru dapat memeriksa enam kasus,” kata Nurcholis dalam konferensi pers di Gedung Bareskrim, Jakarta, Rabu (17/7).

Baca Juga:  Lagi, KPK Panggil Ganjar Dalam Kasus Korupsi E-KTP

Dia mengungkapkan, di antara enam kasus high profile tersebut yaitu kasus e-KTP, kasus suap mantan ketua MK Akil Mochtar, kasus Sekretariat Jenderal Mahkamah Agung (Sekjen MA), kasus bupati, kasus Wisma Atlit, dan kasus yang tidak dalam penanganan namun memiliki potensi ditangani Novel, yaitu kasus penanganan sarang burung walet di Bengkulu.

“Rata-rata kasus yang ditangani KPK melibatkan high profile, kami menduga orang-orang yang dimaksud tidak bisa melakukan sendiri, tapi menyuruh orang lain,” ujarnya.

Kendati demikan, kata dia, prinsip TPF dalam pemeriksaan ini adalah penghormatan terhadap hak asasi manusia (HAM). TPF juga tidak hanya memeriksa ulang, tapi membagi kepada tiga peristiwa, yaitu prakejadian, saat kejadian, dan pascakejadian.

Pada saat prakejadian tanggal 5 April 2017, dia menyebutkan ada satu orang yang datang ke rumah Novel dengan motif menanyakan dagangan pakaian yang dijual oleh istri Novel. Sementara, pada saat kejadian tanggal 10 April, ada dua orang pengendara motor menggunakan helm full face (menutupi wajah secara penuh) dan melakukan penyerangan terhadap Novel.

Baca Juga:  Jubir KPK Dilaporkan ke Polisi

“Mengenai fakta penyiraman, hampir tidak ada saksi. Bahkan korban sendiri betul-betul tidak bisa mengenal, terlebih kedua pelaku menggunakan helm full face, full face yang kami maksud yaitu hanya mata yang terlihat,” kata Nurcholis.

“Nah, setelah itu ada saksi yang melihat sekitar 15 meter, ada dua ibu yang jalan di saat bersamaan, tapi kami tetap menggunakan asas praduga tak bersalah. Karena itu, semakin majunya teknologi, kami akan menggunakan tim teknis,” ujarnya melanjutkan.

Ia sepakat dugaan pelaku penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan adalah kedua orang pengendara motor dengan menggunakan helm full face. Menurut dia, kelemahan dalam mengungkap pelaku ini adalah terkait pembuktian. “Kami mengupayakan teknologi yang mampu mengungkap jejak elektronik, karena itu kami yakin Tim Teknis dapat menemukan siapa pelakunya,” katanya. (AIJ/INI-Network)

Berikan Komentar

avatar
  Subscribe  
Notify of