Semua Platform Messaging akan Dipasang Antihoaks

0
Dirjen Aptika Kominfo, Semuel Aabrijani Pangerapan saat menerangkan peluncuran Chatbot Anti Hoaks di hadapan rekan-rekan media di Jakarta. Foto: Kominfo.go.id

Oleh: Asmoro

Semaranginside.com, JakartaSebelum membahas chatbot, apakah anda pernah mendengar aplikasi yang sempat viral 2 tahun lalu yang bernama SimSimi? Ya, aplikasi SimSimi adalah implementasi sederhana dari penggunaan teknologi Chatbot itu sendiri. Semakin sering kosakata yang kita tanyakan ke SimSimi semakin variatif juga jawaban SimSimi yang diberikan oleh pengguna.

Chatbot sendiri adalah perangkat yang dibuat dengan algoritma kecerdasan buatan atau AI (Artificial Intelligent). Yang dimana teknologi Chatbot itu sendiri lebih difokuskan ke layanan chatting dalam memberi informasi ke pengguna. Biasanya digunakan di industri makanan, layanan tiket, atau  membantu memberikan nasihat dan bercakap-cakap seperti Simsimi.

Belakangan ini Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), sedang berupaya memerangi hoaks atau berita bohong di platform messaging. Kominfo berencana ingin menyatukan berbagai layanan platform messaging  yang populer tersebut di integrasikan dengan program Chatbot.

Baca Juga:  Memprihatinkan, Baru 9% UMKM Manfaatkan Platform online

Menurut Semuel Abrijani Pangerapan, Direktur Jenderal Aplikasi Informatika, mengatakan Chatbot Anti Hoaks dapat memverifikasi kebenaran dari artikel atau berita yang beredar.

“Kami meluncurkan fitur untuk verifikasi artikel-artikel yang beredar di platform seperti Telegram, WhatsApp, Line, dan lainnya. Tapi untuk yang pertama kami akan merilis chatbot di Telegram terlebih dahulu,” kata Semuel.

Lalu bagaimana cara kerja chatbot ini yang dipasang di platform chat tersebut?

Menurut Teguh Eko Budiarto, CEO Prosa, Chatbot Anti Hoaks ini. Akun @chatbotantihoaks harus pengguna follow terlebiuh dahulu di Telegram, lalu jika ada link berita yang memberitakan hal yang janggal atau hoax menurut pembaca langsung di copy paste ke @chatbotantihoaks tersebut, setelah itu akan melakukan re-processing (memproses ulang) untuk cari relevansinya terhadap artikel yang dikirim oleh pengguna.

Baca Juga:  Imbas Negatif Pemilu, Kominfo Deteksi Peningkatan Hoaks

Hasil akhirnya adalah menginvestigasi berita itu hoaks tersebut karna AI tidak bisa melakukannya 100%. Tetap membutuhkan para jurnalis yang nantinya akan difasilitasi oleh Kominfo sebagai pemilik wewenang.

Pihak Kominfo juga sedang melakukan pembicaran platform messaging lainnya seperti WhatsApp dan Line untuk lebih meluas penerapan @chatbotantihoaks ini. (EPJ)

Berikan Komentar

avatar
  Subscribe  
Notify of