Sepenggal Kisah Bersama Ustaz Arifin Ilham

0
Ustaz Arifin Ilham.

Oleh: Arif S

Semaranginside.com, Jakarta – Acara zikir malam akhir tahun 2008 itu tinggal sepekan lagi. Segala persiapan rasanya sudah kami lakukan. Semua panitia juga sudah menjalankan tugas masing-masing.

Pengisi acara yang akan memberikan sambutan atau tausiyah juga sudah kami susun. Ada Menteri Agama, Maftuh Basyuni; Ketua MPR, Hidayat Nur Wahid; Menpora, Adyaksa Dault; Dirut Bank Muamalat, Riawan Amin; dan beberapa lainnya dari Telkom serta Pertamina.

Tentu saja sebagai gongnya adalah Ustaz Arifin Ilham. Hampir setiap acara zikir malam akhir tahun baru yang rutin diselenggarakan Harian Republika di Masjid At-Tiin Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, Ust Arifin selalu menjadi pengisi acara inti di detik-detik pergantian tahun. Zikir yang beliau pimpin itulah yang menjadi puncak acara sekaligus penutup kegiatan tersebut.

Di tengah kelegaan lantaran persiapan yang sudah matang, tiba-tiba ada pesan masuk dari Ustaz Arifin. “Mohon agar ayahanda KH Zainuddin MZ juga dimasukkan dalam acara untuk memberikan tausiyah,” demikian bunyi pesan Ust Arifin.

Sudah barang tentu saya terkejut. Dalam rangkaian acara yang kami buat, sama sekali tidak ada nama KH Zainuddin MZ yang biasa dijuluki dai sejuta umat. Panitia memang sengaja tidak mengundang KH Zainuddin MZ dengan pertimbangan bahwa kali ini senaja memberi kesempatan pada dai-dai atau ustaz yang lebih muda.

Saya pun berusaha menyampaikan ke Ustaz Arifin perihal tidak adanya nama KH Zainuddin di susunan acara. Rupanya Ustaz Arifin tidak bisa menerima dan tetap minta nama KH Zainuddin dimasukkan. Kami pun berdiskusi dengan teman-teman panitia lain. Salah satu masalahnya, semua spanduk atau baliho sudah terpasang di beberapa sudut Jakarta dan sama sekali tak ada nama KH Zainuddin MZ.

Rasanya juga tidak mungkin bila semua spanduk diganti. Panitia lalu sepakat untuk menemui langsung Ustaz Arifin di kediamannya. Beberapa teman menyarankan agar saya langsung, selaku ketua panitia, yang menemui Ustaz Arifin dan menjelaskan duduk maslahnya.

Bersama dua rekan pantia, sore itu kami berangkat menuju kediaman Ustaz Arifin di Mampang, Depok.  Setiba di rumah Ustaz Arifin, rupanya sedang ada beberapa tamu juga. Kami berniat menunggu di luar namun oleh Ustaz Arifin dipersilakan masuk. Kami pun bergabung dengan beberapa tamu lain dari Makassar dan Banjarmasin.

Baca Juga:  Dakwah Arifin Ilham, Dakwah Semesta

Kami semua duduk bersila di ruang tamu yang luas itu. Istri Ustaz Arifin juga ikut menemani dalam obrolan santai tersebut. Saat Ustaz Arifin bicara dengan tamu-tamunya, kami lebih banyak mendengarkan sembari tertawa bila diskusi menyinggung hal-hal yang memang lucu.

Setelah diskusi dengan para tamu itu selesai, giliran kami yang bicara dengan Ustaz Arifin. Saya pun mulai bicara tentang pesan Ustaz Arifin yang meminta agar kami menyertakan KH Zainuddin MZ dalam susunan acara tausiyah.

Sesuai hasil rapat di kantor, kami lalu meyampaikan pertimbangan tidak mengundang KH Zainudin MZ. “Ustaz, untuk tahun ini kami memang tidak mengundang ulama-ulama senior atau sepuh. Kami memang ingin agak mengubah suasana acara dengan lebih banyak menampilkan ulama-ulama atau ustaz muda. Ya pertimbangan kami agar nanti ada regenerasi ulama,” tutur saya berusaha menjelaskan dengan berhati-hati kepada Ustaz Arifin.

Penjelasan saya rupanya tidak bisa diterima oleh beliau. “Lho ‘kan sudah ada saya yang masih muda. Itu sudah cukup sehingga perlu ulama senior sebagai pendamping,” papar Ustaz Arifin.

Saya kemudian menjelaskan soal spanduk dan baliho yang sudah terpasang di banyak tempat, juga iklan di Republika, yang tidak ada nama KH Zainuddin MZ. Agaknya, hal itu tidak menjadi persoalan serius bagi Ustaz Arifin. Ustaz menjelaskan, tidak menjadi masalah jika nama KH Zainuddin MZ tidak  tercantum di spanduk, baliho, atau iklan. Bagi Ustaz, yang lebih penting adalah kepastian adanya KH Zainuddin MZ di susunan acara.

Karena panitia dan keputusan rapat internal di Republika memutuskan untuk tidak mengundang KH Zainuddin MZ, maka hal itu saya utarakan lagi ke Ustaz Arifin. Jawaban Ustaz Arifin sungguh mengejutkan dan membuat kami langsung surut. Saya sama sekali tidak mengira beliau sampai mengucapkan hal itu untuk membela seseorang yang dia anggap layak diperjuangkan.

“Ya sudah begini saja. Kalau ayahanda KH Zainuddin MZ tidak bisa dimasukkan sebagai pengisi acara, maka saya juga tidak usah ikut saja,” sahut Ustaz Arifin dengan nada agak tinggi. Seketika saya terbengong mendengar jawaban itu. Namun, kemudian saya merasa tak punya pilihan lagi sehingga harus menyetujui apa yang disampaikan Ustaz Arifin.

Baca Juga:  Sakit Membersihkan Dosa

Andai zikir akhir tahun itu tak ada Ustaz Arifin, tentu acara bisa berantakan. Soalnya, Ustaz Arifin senantiasa menjadi ikon bagi kelangsungan acara tersebut setiap tahunnya. Jamaah yang hadir dalam acara zikir itu pun selalu berpandangan, bahwa mereka akan berzikir menutup tahun dan membuka tahun baru bersama Arifin Ilham dan bukan ulama yang lain.

Pembicaraan kami dengan pihak ketiga sebagai penaja (sponsor) juga selalu mencantumkan nama Ustaz Arifin Ilham. Pihak ketiga pun berminat untuk memberikan dukungan lantaran yakin jamaah akan membeludak dan memenuhi Masjid At-Tiin jika ada Ustaz Arifin Ilham. Pendek kata, Ustaz Arifin Ilham adalah jaminan mutu untuk acara zikir.

Dengan pertimbangan itu, kami lalu sepakat dengan usulan Ustaz Arifin untuk menyertakan KH Zanuddin MZ. “Selain itu, ada pertimbangan lain yang membuat saya merasa perlu harus mengundang KH Zainuddin MZ. Bukan soal kedekatan saya dengan beliau, bukan itu. Masalahnya adalah, beliau kini kondisinya sedang barada di bawah dan jarang sekali mendapat undangan ceramah. Kita, sebagai kalangan yang lebih muda, wajib untuk membantu dan mengangkat lagi aktivitas beliau untuk berdakwah,” ujar Ustaz Arifin.

Penjelasan ini sungguh mengena dan kami bertiga pun sangat terkesan mendengarnya. Ustaz Arifin begitu peduli dengan keberadaan ulama sepuh yang dia kenal. Di tengah kesibukan dan popularitasnya yang luar biasa, kepedulian dan penghormatannya kepada yang lebih tua –dan mereka yang tengah berada di bagian bawah roda kehidupan– tetap tak ia tanggalkan.

Mendengar alasan Ustaz Arifin untuk mengajak KH Zainuddin MZ  di acara zikir akhir tahun itu membuat dada kami seperti tersiram air dingin: cesss. Sepenuhnya kami bisa menerima alasan ini.

Ustaz Arifin kala itu sedang mengajarkan kepada kami agar tidak jemawa pada saat kita berada di atas. Setinggi dan senikmat apa pun kedudukan yang sedang kita rasakan, hendaknya tetap peduli dan bisa berbagi dengan mereka yang berada di bawah.

Terima kasih Ustaz Arifin atas nilai kebaikan dan kebajikan yang Anda berikan kepada kami. Innalillahi wa innailaihi rajiun. Allahumaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu’anhu. (AS/INI-Network)

Berikan Komentar

avatar
  Subscribe  
Notify of