Sisi Lain (Yang belum Terungkap) dari Ustadz Ja’far Umar Thalib

0
Ja’far Umar Thalib

Oleh: Herry M Joesoef

Semaranginside.com, Jakarta – Ustadz Ja’far Umar Thalib telah wafat pada Ahad (25/8) di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, Jakarta. Selama hidupnya yang hampir 58 tahun, penuh warna dan dinamika. Selain gigih mempertahankan hujahnya, ia dikenal terus terang jika menilai orang per orang atau sekelompok orang. Tetapi, di balik sikapnya yang untuk sebagian orang dianggap kasar itu, ada sisi-sisi baik yang belum terungkap ke permukaan.

Adalah seorang purnawirawan polisi berpangkat Irjen, mengemukakan kepada penulis bahwa, “Banyak perjuangan beliau yang saya sangat salut,” katanya. “Beliau berkorban untuk dareah yang tidak disentuh oleh orang lain,” jelasnya.

Kapolri Jenderal Tito karnavian, ketika berta’ziah di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, memberikan kesaksian, “Beliau adalah sosok yang cinta NKRI dan cinta umat Islam.”

Keluarga besar Ustadz Ja’far Umar Thalib berasal dari Yaman. Kakek Ja’far, Abdullah bin Amir bin Thalib adalah ulama besar dan disegani di Yaman. Pada paruh abad 19, Abdullah bersama seorang saudaranya merantau ke Asia. Berlabuh di Kuala Lumpur, lalu ke Singapura, Banjarmasin, dan menetap di Madura. Di sini Abdullah menikahi seorang putri kepala desa. Pernikahannya itu membuahkan seorang putra bernama Umar, ayah dari Ja’far Umar Thalib. Umar Thalib, dalam perkembangannya tumbuh menjadi seorang yang alim, ahli fikih dan ahli hadits, dan mukim di Malang, Jawa Timur.

Adapun Ja’far Umar Thalib adalah anak ketujuh dari pernikahan Umar dengan Badriyah Shaleh yang sama-sama punya asal-usul dari Yaman. Ja’far lahir di Malang, Jawa Timur, pada 29 Desember 1961. Pernah menempuh pendidikan di Al-Irsyad, Persis Bangil, Universitas Muhammadiyah Malang,  LIPIA Jakarta, dan Maududi Institute di Lahore, Pakistan. Tetapi, secara formal Ja’far tidak pernah menuntaskan studinya. Bahkan, ketika berada di Pakistan, Ja’far lebih banyak bergabung dengan milisi untuk melawan Uni Soviet di Afganistan pada 1987-1989.

“Melawan Sovyet itu perjuangan yang sangat berat,” begitu kenang Ja’far kepada penulis. Ini karena pasukan Sovyet memakai senjata berat, sementara para pejuang Afghanistan, dimana Ja’far bergabung, hanya memakai senjata laras panjang. Senjata berat memang ada, tapi jumlahnya sangat terbatas.

Pulang ke Indonesia tahun 1989, Ja’far diserahi memimpin sebuah Pesantren milik Al-Irsyad di Tengaran, Jawa Tengah. Ja’far memimpin pesantren tersebut bersama Abdul Qadir Jawas, yang juga dikenal sebagai salah seorang tokoh Salafi Indonesia.

Baca Juga:  Agenda Ijtima Ulama IV Hari Ini, Bahas Masalah LGBT hingga Tata Kelola Negara

Karena ada ketidakcocokan dengan pihak Al-Irsyad dan juga sebagian orangtua murid tentang metode pendidikan, Ja’far –dan juga Abdul Qadir Jawas—mengundurkan diri. Ja’far lalu mendirikan Pesantren Ihya Ash-Sunnah di Jalan Kaliurang Km 15 Godean, Yogyakarta, di awal tahun 1990-an.

Ketika terjadi konflik Horizontal di Ambon dan Maluku, Ja’far bersama para tokoh salafi lainnya, antara lain, Muhammad as-Sewed dan Ayip Syaifuddin, mendirikan Forum Komunikasi Ahlussunnah wal Jamaah (FKAWJ), yang punya pasukan dengan nama Laskar Jihad, tahun 1999. Ja’far Umar Thalib adalah Panglima Laskar Jihad.

Pada 6 April 2000 Laskar Jihad menggelar apel di depan Gedung DPR RI, lengkap dengan senjata tajam berupa pedang. Waktu itu, Ustadz Ja’far Umar Thalib diterima oleh pimpinan DPR. Esok harinya, pada 7 April 2000, Presiden Abdurrahman Wahid menerima Ja’far Umar Thalib bersama beberapa orang laskar.

Dalam pertemuan dengan Presiden Abdurrahman Wahid, Ja’far memberi nasihat karena presiden tidak setuju dengan pengiriman Laskar Jihad ke Ambon. Dialog sempat memanas dan Presiden Abdurrahman Wahid mengusir rombongan Ja’far. “Yang penting kami telah memberi nasihat pada presiden,” begitu tutur Ja’far.

Meski presiden melarang pengiriman Laskar Jihad dari Jawa, faktanya, pengiriman Laskar Jihad tetap berjalan. Lalu, apa yang dilakukan oleh Laskar Jihad di Ambon dan Maluku pada umumnya?

Dalam kasus Ambon, misalnya, waktu itu penulis menyaksikan bahwa Laskar Jihad membuat pos-pos di sepanjang perbatasan wilayah konflik. Jika ada serangan dari pihak lawan, maka pos-pos tersebut yang harus dilewati.

Dalam pandangan Islam, pos-pos tersebut dikenal dengan nama Ribath, dan para penjaganya disebut sebagai Ahlur-Ribath, orang yang menjaga kaum Muslimin dari serangan musuh. Dan itu punya keistimewaan dan punya pahala yang besar, sebagaimana hadits yang dikeluarkan oleh Imam Muslim, “Orang yang menjaga di tapal batas sehari semalam lebih baik dari puasa dan shalat malam selama sebulan. Dan jika ia mati, maka mengalirlah (pahala) amal yang biasa ia kerjakan, diberikan rizkinya, dan dia dilindungi dari adzab (siksa) kubur dan fitnahnya.”

Baca Juga:  Akibat Liberalisme Seksual

Pos-pos perbatasan yang didirikan oleh Laskar Jihad itu tidak hanya berfungsi sebagai Ribath, tapi juga sebagai tempat belajar dan mengajarkan Al-Quran. Laskar Jihad juga mendirikan pendidikan untuk anak-anak para pengungsi dan penduduk setempat. Selain itu, kehadiran Laskar Jihad juga ikut memberantas pemakaian ajimat-ajimat yang jamak dilakukan oleh para laskar lokal. Ini, bagi Ja’far, adalah bentuk pemurnian akidah yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Ada awal, ada akhir. Begitu juga dengan Laskar Jihad. Pada Senin (14/10/2002), dua hari pasca ledakan Bom Bali I yang dilakukan oleh kelompok Jamaah Islamiyah, Laskar Jihad membubarkan diri, dan menarik 3.000 laskarnya dari Maluku secara bertahap selama 3 bulan.

Lalu, apakah kehidupan Ja’far Umar Thalib surut? Ternyata tidak. Meski tanpa Laskar Jihad, Ja’far tetap berkiprah di dunia dakwah, dengan caranya sendiri.

Empat tahun lalu, Ja’far merintis pembangunan pesantren di pinggiran kota Jayapura, Papua. Sebelum membuka pesantren, Ja’far sudah aktif melakukan dakwah di wilayah Papua. Motivasi dari pendirian pesantren tersebut agar dia bisa efektif mengajarkan Islam kepada penduduk setempat. Yang disasar adalah mereka yang sudah Islam dan mereka yang belum mengenal agama.

Motivasi lain adalah untuk menjaga NKRI. Ja’far sangat prihatin atas adanya hasutan agar orang-orang Papua merdeka dan keluar dari NKRI.  Ini yang belum banyak orang yang tahu. Betapa cintanya ia dengan NKRI, sampai menghibahkan dirinya, dari Jogja hijrah ke Papua.

Karena itu, ketika terjadi demo besar-besaran di Manokwari yang membakar gedung DPRD dan pusat-pusat  pertokoan, Senin (19/8), Ja’far adalah salah seorang yang sangat prihatin. “Keprihatinan itu karena Ustadz Ja’far menilai aparat terlambat dalam mengantisipasinya,” tutur seorang sejawat Ustad Ja’far Umar Thalib kepada penulis.

Keberadaannya di Jayapura selama beberapa tahun, membuat Ustadz Ja’far bisa mencium mana demo yang natural dan mana demo yang direkayasa yang berujung kepada perminataan akan adanya referendum. Keprihatinan itu membuat dirinya bersedih yang amat, dan itu mempengaruhi kesehatannya. Rabu (21/9) ia amfal akibat serangan jantung dan wafat pada hari Ahad  24 Dzulhijjah 1440 bertepatan dengan 25 Agustus 2019. Semoga Ustadz Ja’far Umar Thalib mendapat tempat di sisi-Nya. (HMJ/INI-Network)

Berikan Komentar

avatar
  Subscribe  
Notify of