Stunting Jateng Lampaui Batas WHO

0
Ilustrasi. Pemeriksaan kesehatan balita dan anak di Posyandu. Foto: Istimewa

Oleh: Agus Susilo

Semaranginside.com, Semarang – Jawa Tengah menghadapi persoalan serius terkait stunting. Prevalensi stunting di Jawa Tengah saat ini sebesar 28%. Angka itu masih di atas batas yang ditetapkan oleh organisasi kesehatan dunia (WHO) 20%. Meski prevalensi Jawa Tengah sebenarnya masih lebih baik dari angka nasional yang tercatat 37,2%.

Pada September 2018, di 11 kabupaten ada 110 desa yang perlu diintervensi untuk menyelesaikan kasus stunting.

Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah Sri Puryono mengatakan penyebab stunting atau kurang gizi kronis pada anak disebabkan kekurangan asupan gizi dalam waktu cukup lama. Biasanya saat anak berada dalam kandungan.

Baca Juga:  Namanya Viral Jadi Mendagri, Ganjar; Aku Ngurusi Jawa Tengah Wae

“Jateng mengupayakan bebas dari kasus stunting dengan target di bawah 20% pada 2023. Target ini merujuk pada angka WHO, di mana jika di atas 20% dianggap sebagai negara yang memiliki masalah kesehatan,” kata Puryono, Jumat (23/8).

Ditambahkan, setelah anak lahir, pada 1.000 hari pertama usianya, nutrisi anak harus dipenuhi dengan baik. Termasuk memberikan ASI eksklusif. Pihaknya pun merasa prihatin dengan adanya kecenderungan ibu muda di era sekarang, yang lebih memilih makanan siap saji untuk anaknya.

“Makanan B2SA (beragam bergizi seimbang dan aman) penting. Jangan asal makan. Sekarang ini ibu-ibu cenderung memilih gampange. Dikasih mi instan atau fried chicken. Jangan yang fastfood. Dikenalkan dengan gado-gado, karedok, sup atau sayur bening. Itu juga gampang,” pesannya.

Baca Juga:  Titiek Soeharto: Semoga Allah Memberikan Keberkahan Melalui Malam Munajat 212

Beberapa upaya Jateng dalam menurunkan angka stunting diantaranya melalui pengadaan jamban, pemberian vitamin bagi bayi, pemberian gizi tambahan bagi ibu hamil, dan pelaksaan program Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng. Upaya yang dilakukan pemerintah itu, tandasnya, perlu partisipasi dari masyarakat.

Hal itu dilakukan juga sebagai langkah peningkatan kualitas SDM yang tengah di canangkan oleh pemerintah pusat. Untuk mempersiapkan SDM yang unggul, perhatian harus diberikan sejak ibu mengandung. Makanan yang dikonsumsi ibu hamil harus bergizi dan rutin memeriksakan diri. (Ags)

Berikan Komentar

avatar
  Subscribe  
Notify of