Tahun Ini, Untag Hasilkan Tiga Guru Besar

0
Pengukuhan Guru Besar Prof Edy Lisdiyono, SH MHum ditandai dengan pengalungan samir oleh Rektor Untag. Foto : untagsmg.ac.id

Oleh : Nugroho

Semaranginside.com, Semarang – Tahun ini, Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Semarang melahirkan tiga guru besar. Hal itu diungkapkan rektor kampus tersebut Dr Drs Suparno MSi saat mengukuhkan Edy Lisdiyono sebagai guru besar di bidang ilmu hukum pada Fakultas Hukum Untag Semarang. Suparno bahkan mengungkapkan, belum ada perguruan tinggi swasta yang mencatat prestasi seperti itu.

“Hal ini belum pernah terjadi di PTS mana pun, kecuali PTN,” terangnya dikutip dari situs resmi Untag Semarang, Selasa (13/8).

Lebih lanjut dia mengungkapkan, SK ketiga guru besar tersebut turun secara berurutan. Diawali dari Edy Lisdiyono yang turun terhitung mulai 1 Maret yang kemudian dikukuhkan akhir pekan lalu.

“Kemudian Retno Mawarini pada 1 Mei dan saya sendiri, pada 1 Juli 2019 yang rencananya akan dikukuhkan pada September mendatang,” tambahnya.

Baca Juga:  Fisip Untag Didorong Buka Program Doktor

Dengan begitu, Untag sekarang sudah memiliki 8 Guru Besar. Selanjutnya dia mengatakan bahwa pengukuhan guru besar merupakan acara sakral yang hanya dilakukan oleh perguruan tinggi manakala yang bersangkutan sudah menerima SK dalam jabatan profesor.

Edy dalam orasi ilmiahnya yang berjudul Tanggung Jawab Negara Dalam Tata Kelola Sumber Daya Alam Terhadap Kerusakan Lingkungan Hidup, menyampaikan bahwa sumber daya alam, utamanya batubara dan timah masih menjadi salah satu primadona pendapatan bagi Indonesia sebagai pembangkit listrik dan bahan baku lainnya. Namun yang terjadi kemudian adalah eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan tanpa kontrol yang baik dan ketat, sehingga hal ini bisa mengakibatkan kerusakan lingkungan, mahkluk hidup yang lain, serta sumber penyakit bagi manusia.

Untuk itu negara harus bijaksana dalam tata kelola sumber daya alam. Caranya dengan melibatkan partisipasi masyarakat setempat, termasuk masyarakat adat, yang dilakukan secara transparan dan akuntabel. Utamanya harus memperhatikan fungsi lingkungan hidup agar terjaga kelestariannya secara berkelanjutan

Baca Juga:  Untag Apresiasi Mahasiswa yang Raih Emas Voli Putra di Pomnas 2019

Sementara Direktur Karier dan Kompetensi SDM Kemenristek Dikti Buyamin Maftuh dalam sambutannya menuturkan, jabatan profesor bukan tujuan akhir seorang dosen.

“Jadi jangan seperti profesor gedebok pisang, sekali berbuah terus mati. Karena profesor itu harus tetap produktif dalam menghasilkan karya karya ilmiah,” tegasnya.

Untuk mengantisipasi hal itu, maka Kememristek Dikti mengeluarkan Permen no 20 tahun 2017 yang salah satunya mewajibkan seorang profesor dalam jangka tiga tahun harus menulis 3 jurnal intermasional atau 2 jurnal internasional bereputasi.

“Permen tersebut mulai tahun ini sudah diberlakukan, sehingga kalau tidak bisa memenuhi maka akan ditunda atau dicabut tunjangan kehormatannya,” tuturnya.(nug)

Berikan Komentar

avatar
  Subscribe  
Notify of