Tertembak, Mata Wartawan Indonesia Alami Kebutaan

0
Michael Vidler (kiri), Veby Mega Indah (kanan). Foto: Istimewa

Oleh: Nurcholis

Semaranginside.com, Hong Kong – Veby Mega Indah,  jurnalis Indonesia yang ditembak di wajahnya dengan proyektil polisi pada hari Ahad, kemungkinan akan mengalami kehilangan pandangan secara permanen di mata kanannya, menurut pengacaranya.

“Dokter yang merawat Vegy Indah hari ini memberitahunya bahwa sayangnya cedera yang diterimanya akibat ditembak oleh polisi, akan mengakibatkan kebutaan permanen di mata kanannya,” kata Michael Vidler. “Dia diberi tahu bahwa pupil matanya pecah oleh kekuatan benturan. Persentase pasti dari kerusakan permanen hanya dapat dinilai setelah operasi,” ujar Michael Vidler sebagaimana dikutip laman Hongkong Free Press, Rabu (2/10).

Saat kejadian, wartawan  Indonesia bernama Veby Mega Indah, sedang melaporkan insiden unjuk rasa dengan sekelompok jurnalis asing lainnya,  ditembak dalam jarak dekat oleh polisi antihuru-hara di dekat lokasi mereka.

Menurut wartawan kantor berita AFP, Jerome Taylor melalui Twitter, berita itu dikonfirmasi oleh pengacara Veby, Michael Vidler.

Menurut pesan singkat melalui WhatsApp oleh Michael, dokter yang merawat Veby mengkonfirmasi bahwa mata kanannya hancur oleh luka tembak yang menembus kata matanya, menyebabkan kebutaan.

Michael mengatakan dia juga mendapatkan bukti dari pihak ketiga bahwa luka-luka itu berasal dari peluru karet yang ditembakkan oleh polisi, dan bukan bean bag, yang berisi butiran mirip gotri.

Baca Juga:  Cerita Mencekam Peliputan Kerusuhan Papua

CNN Indonesia melaporkan Kementerian Luar Negeri Indonesia melalui Direktur Perlindungan Warga Negara dan Badan Hukum Indonesia, Joedha Nugraha mengkonfirmasikan berita tersebut dengan Kedutaan Besar Indonesia di Hong Kong.

Veby, yang merupakan editor surat kabar Hong Kong News Voice, ditembak di dekat Stasiun MRT Wan Chai pada hari Ahad ketika melakukan siaran langsung melalui Facebook.

Pada saat itu, Veby dikelilingi oleh jurnalis lain dan juga mengenakan pakaian visibilitas tinggi dan helm berlabel ‘media’.

Setelah kejadian itu, Veby dikirim ke Rumah Sakit Pamela Youde Nethersole Eastern dan dalam kondisi stabil.

Berbicara kepada South China Morning Post (SCMP), Veby mempertanyakan kebijakan polisi Hong Kong untuk menembaki dia dan jurnalis lainnya.

Veby bersikeras bahwa dia mengenakan helm, kacamata pelindung, pakaian formal dan membawa wartawan resmi.

Sebuah video yang direkam oleh seorang paramedis dan diunggah ke Twitter oleh Sarah Zheng, seorang jurnalis SCMP diduga menunjukkan saat penembakan itu dilakukan oleh seorang polisi dari jembatan Gloucester Road.

Polisi Hong Kong, dikutip laman straitstimes mengatakan mereka telah menembakkan 306 butir peluru karet, 328 butir gas air mata, 95 butir kantong kacang dan 79 butir busa pada aksi hari Ahad.

Baca Juga:  5 Film Bertema Perjuangan Wartawan

Hari Senin, Asosiasi Jurnalis Hong Kong (HKJA) mengatakan sangat prihatin dengan insiden.

“Kami sangat prihatin dengan laporan bahwa cedera itu disebabkan oleh peluru karet atau bean bag round (peluru pundi kacang) sementara wartawan itu tidak berada di dekat pengunjuk rasa pada saat kejadian, dia jelas dapat diidentifikasi sebagai anggota pers dan dengan sejumlah jurnalis lainnya pada saat itu juga mengenakan tanda pers visibilitas tinggi, ”katanya dalam sebuah pernyataan.

“Polisi memiliki tugas untuk membantu pers dan memfasilitasi pelaporan oleh anggota pers. Jelas bahwa ini berarti bahwa polisi tidak boleh menyebabkan cedera pada wartawan.”

HKJA mengatakan akan menyelidiki kasus ini.

Kedutaan Besar Indonesia telah meminta penjelasan resmi dari pihak berwenang untuk menentukan kronologi kejadian tersebut.

Pemerintah Indonesia juga meminta penyelidikan lebih lanjut tentang masalah ini.

Menurut media lokal, Hong Kong News Voice adalah surat kabar terkemuka untuk orang Indonesia yang bekerja di Hong Kong. (CK/INI-Network)

Berikan Komentar

avatar
  Subscribe  
Notify of