Tingkat Konsumsi Ikan Warga Kota Semarang Rendah

0
Wali Kota Hendra Prihadi saat kampanyekan Gemarikan. Foto : semarangkotago.id

Oleh : Nugroho

Semaranginside.com, Semarang – Tingkat konsumsi ikan warga Kota Semarang ternyata masih rendah, yakni hanya 33,07 per kilogram per kapita per tahun. Angka tersebut jauh dari standar yang ditetapkan pemerintah pusat yaitu 43,88 per kilogram per kapita per tahun.

Hal itu diungkapkan Wali Kota Hendrar Prihadi saat mengkampanyekan Gerakan Masyarakat Makan Ikan (Gemarikan) di Balai Kota.

“Terdapat beberapa kekeliruan yang menyebabkan tingkat konsumsi ikan di Kota Semarang masih rendah. Dugaan saya, belum semua warga paham manfaat mengonsumsi ikan untuk kehidupan sehari-hari. Pada sisi lain, bisa juga harga ikan yang belum terjangkau sehingga masyarakat enggan membeli ikan,” terangnya dikutip dari situs resmi Pemkot, Rabu (31/7).

Gemarikan dipelopori oleh Suku Dinas Ketahanan Pangan Kelautan dan Pertanian (KPKP). Gerakan itu bertujuan meningkatkan gizi masyarakat.

Baca Juga:  KPPS Boyolali Akui Coblosi Surat Suara

Wali Kota lantas meminta kepada Dinas Perikanan agar lebih gencar untuk melakukan sosialisasi gemar makan ikan dan memberikan bantuan program nelayan.

Sementara itu, akhir pekan lalu Wali Kota menghadiri puncak tradisi Sedekah Laut dan Bumi Kampung Tambaklorok, Kelurahan Tanjung Mas, Kecamatan Semarang Utara. Ribuan warga, nelayan, dan wisatawan mengikuti prosesi Larungan Sesaji di laut yang melibatkan sekitar 70 kapal.

Kapal-kapal tersebut dikerahkan untuk mengantar peserta larungan ke tengah laut kurang lebih berjarak 25 kilometer dari dermaga nelayan. Ada kepala kerbau dan berbagai hasil bumi yang dilarung.

Menurut Ketua Panitia, Imam Sucipto, acara ini merupakan wujud syukur nelayan Tambaklorok kepala Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rezeki sangat melimpah dari laut. “Kami juga bersyukur karena selama ini telah diberi keselamatan”, ujarnya.

Baca Juga:  Viral Gaji Bupati Banjarnegara Rp5,9 Juta, Ganjar: Rp100 Juta Masuk Akal

Selain itu, Sedekah Laut dan Bumi juga sebagai bentuk melestarikan tradisi. “Kami ingin nguri-nguri budaya tradisional yang pada dasarnya tidak terlepas dari kehidupan yang ada di pesisir ini”, imbuh Imam.

Dia menerangkan, tradisi tersebut adalah agenda tahunan yang sudah dilangsungkan selama 5 tahun terakhir. Tradisi ini pada awal mulanya memang merupakan hajatan para nelayan. Seiring waktu, Sedekah Laut dan Bumi yang sebelumnya diprioritaskan dengan kegiatan di perariran, kini juga ditambah kegiatan di daratan agar semakin meriah.

Saat ini terdapat sekitar 800 orang nelayan di Tambaklorok. Angka tersebut dapat berubah seperti yang terjadi pada paruh musim ini dimana tinggal sebagian dari jumlah nelayan tersebut yang masih bekerja karena bukan musim melaut. Akibatnya hasil tangkapan pun sedikit.(nug)

Berikan Komentar

avatar
  Subscribe  
Notify of