Tukang Loper Koran Jadi Wisudawan Inspiratif UIN Walisongo

0
Sinta Nuriyah Wahid. Foto: ANTARA

Oleh: Ade Lukmono

Semaranginside.com, Semarang – Konvergensi media membuat pembaca media cetak semakin sedikit. Terlebih lagi, pada zaman digital anak muda lebih menyukai membaca berita dari smartphone yang selalu dalam genggaman.

Namun media cetak saat ini tetap memiliki segmen tersendiri yang susah digeser. Hal itu yang menjadi keyakinan seorang mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo, Nashrur Rohim untuk menjadi loper koran, bahwa pekerjaan apapun termasuk menjadi loper koran tetap bisa menghasilkan rezeki.

Mahasiswa jurusan D3 Perbankan Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEBI) Islam UIN Walisongo angkatan 2011 ini setiap pagi selalu berkeliling membagikan koran di beberapa titik di Kota Semarang, mulai daerah Wonodri, Jalan MT Haryono, Barito, Jalan Majapahit, Jalan Soekarno Hatta dan di Kelurahan Penggaron.

Baca Juga:  Israel Rencanakan Kenaikan Pajak untuk Palestina

“Pekerjaan ini saya lakukan sejak 2016. Mulai bekerja pukul 05.00 hingga 06.30,” kata Nashrur, Rabu (28/8).

Alasannya dia memilih pekerjaan sebagai loper koran sederhana, yaitu tidak terlalu mengganggu kuliahnya. Selepas bekerja, dia bisa berkonsentrasi untuk kuliah dan berkegiatan di Unit Kegiatan Mahasiswa.

Selain itu, dia hidup tanpa seorang ayah. Hanya ada ibu serta keempat saudaranya yang telah menikah. Dengan gaji sekitar Rp 600.000 sebagai loper koran, dia bertekad untuk tidak membebani saudara-saudaranya yang sudah bersedia membantu biaya kuliahnya.

Ketekunannya dalam bekerja dan belajar membuahkan hasil. Di wisuda FEBI periode Agustus 2019, Nashrur memperoleh penghargaan sebagai Wisudawan Paling Inspiratif. Selain itu, dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sebesar 3,90, dia tercatat masuk dalam 15 wisudawan dengan IPK tertinggi paralel FEBI.

Baca Juga:  Perempuan Tuntut Perlindungan Kerja Sampai Kebebasan Ekspresi

Dia bercerita, pekerjaan yang mengharuskan dia berkeliling Kota Semarang terkadang membuatnya terlambat masuk kuliah. Mendekati akhir perkuliahnya, dia memutuskan untuk berhenti menjadi loper koran dan fokus mengerjakan Tugas Akhirnya.

“Pernah pas di semester awal yang kuliahnya jam 06.10 atau nggak yang jam 07.00,” terangnya.

Kini, dia telah berhasil lulus dan menyelsaikan studinya. Ia mengatakan tidak akan muluk-muluk akan menjadi apa nantinya. Nashrur menilai apapun pekerjaannya nanti asalkan dia bisa produktif.

“Saya berharap teman-teman agar manfaatkan kesempatan sebaik-baiknya dan jangan sampai mengecewakan orang tua. Barangkali ada yang nasibnya lebih buruk dari saya, tekadnya harus lebih dibulatkan untuk menggapai cita-cita,” ucapnya. (Ags)

Berikan Komentar

avatar
  Subscribe  
Notify of