Vonis 8 Tahun Penjara Plus Denda Rp 1 M untuk Mantan Bos Pertamina

0

Oleh : Ore Kantari

Semaranginside.com, Jakarta- Mantan bos Pertamina Karen Agustiawan menangis usai majelis Hakim memvonis 8 tahun penjara. Juga denda Rp 1 miliar subsider 4 bulan penjara. Dia dinyatakan terbukti bersalah.

Karen dinyatakan terbukti bersalah, melakukan korupsi dalam investasi blok Basker Manta Gummy (BMG) di Australia.

“Menyatakan terdakwa Karen Agustiawan telah terbukti secara sah dan meyakinkan menurut hukum bersalah melakukan tindak pidana korupsi bersama-sama,” ungkap hakim ketua Emilia Djaja Subagia membacakan amar putusan dalam sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Senin (10/6).

Dalam putusan itu, majelis hakim menyatakan, bahwa tindak pidana korupsi yang dilakukan Karen itu bersama-sama dengan eks Direktur Keuangan Pertamina Ferederick ST Siahaan, eks Manajer Merger dan Akuisisi Pertamina Bayu Kristanto, serta Legal Consul and Compliance Pertamina Genades Panjaitan. dan dalam keyakinan hakim, Karen telah menyalahgunakan jabatan untuk melakukan investasi.

Baca Juga:  Jutaan Guru Honorer Jadi Alat Pencairan Dana Sertifikasi ?

Karen memutuskan melakukan investasi participating interest (PI) di Blok BMG Australia tanpa melakukan pembahasan dan kajian terlebih dulu. Selain itu, investasi itu tanpa ada persetujuan dari bagian legal dan dewan komisaris PT Pertamina.

“Setelah SPA (Sale Purchase Agreement) ditandatangani, Dewan Komisaris mengirimkan surat memorandum kepada Dewan Direksi perihal laporan rencana investasi. Dalam memorandum tersebut, kekecewaan Dewan Komisaris karena SPA ditandatangani tanpa persetujuan Dewan Komisaris terlebih dahulu, sehingga melanggar anggaran dasar Pertamina,” kata hakim.

Majelis hakim juga menyatakan, bahwa Pertamina tidak memperoleh keuntungan secara ekonomis lewat investasi di Blok BMG. Sebab, sejak 20 Agustus 2010, ROC selaku operator di blok BMG menghentikan produksi dengan alasan lapangan itu tidak ekonomis lagi.

Menurut majelis hakim, perbuatan Karen ini memperkaya Roc Oil Company Limited (ROC) Australia. Akibat perbuatan itu, negara mengalami kerugian Rp 568 miliar.

Baca Juga:  Enam Kali Gempa Terdeteksi di Gunung Merapi

“Pada 20 Agustus 2010, ROC telah menghentikan produksi di Blok BMG. Tetapi, berdasarkan SPA (Sale Purchase Agreement) antara PT Pertamina Hulu Energi (PHE) dengan ROC, PT PHE wajib membayar kewajiban biaya operasional (cash call) dari blok BMG Australia sampai dengan tahun 2012. Dalam hal ini menambah beban kerugian bagi PT Pertamina. Maka unsur menguntungkan diri sendiri, orang lain atau korporasi terpenuhi dan ada dalam perbuatan terdakwa,” tambah hakim.

Dalam keyakinan majelis hakim, Karen dinyatakan terbukti bersalah melanggar Pasal 3 UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tipikor juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP. (Ags/INI-Network)

Berikan Komentar

avatar
  Subscribe  
Notify of