Wakil Ketua Gerindra Jateng: Sekolah Jangan Minta Sumbangan Terus

0
Wakil Ketua Gerindra Jateng dan anggota Komisi E DPRD Jateng, Yudi Indras Wiendarto. (foto: DPRD Jateng)

Oleh: Agus Susilo

Semaranginside.com, Semarang – Pemprov Jateng mengalokasikan bantuan lebih tinggi pada SMA/SMK negeri pada tahun 2020. Untuk itu, pihak sekolah diminta mengerem permintaan bantuan sumbangan pada wali murid. Jika bisa, justru ditiadakan.

Anggota Komisi E DPRD Jateng, Yudi Indras Wiendarto mengatakan peningkatan alokasi bantuan salah satunya pada BOP SMA/SMK negeri sebesar Rp 1 juta/siswa/tahun.

“Kami berupaya agar sekolah (SMA/SMK negeri) bisa tidak memungut biaya dari wali murid,” kata Yudi, Rabu (13/11).

Menurutnya, hal itu dilakukan untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi fokus pemerintah saat ini. Apalagi Jawa Tengah akan menerima bonus demografi dalam 10-20 tahun kedepan, maka alokasi anggaran pendidikan ditingkatkan.

Baca Juga:  Tak Hadiri Rapat Paripurna, Nama Anggota DPRD Jateng Akan Diumumkan

Sementara itu, untuk Bosda SMA/SMK swasta diberikan secara berjenjang dengan menggunakan sistem akreditasi. Bagi Bosda SMA/SMK Swasta akreditasi A Rp 0. Untuk Akreditasi B dan C Rp 250-500 ribu/siswa/tahun.

Hal lain yang ditekankan oleh Wakil Ketua DPD Partai Gerindra Jateng ini adalah pembenahan kurikulum. Yakni disesuaikan dengan kebutuhan dunia industri dan kemajuan teknologi. “Apalagi nanti Jateng mendapat bonus demografi. Jadi kurikulum yang diajarkan di sekolah sesuai dengan kebutuhan anak ke depannya,” ujar Yudi.

Baca Juga:  Awas, Dua Masjid di Binjai Jadi Target Pembakaran

Termasuk persoalan gaji guru honorer yang harus terus disesuaikan. Ia meminta jangan sampai guru tak fokus mengajar gara-gara gaji yang minim.

Sementara itu Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Padmaningrum mengatakan selain memberikan penguatan pada anggaran pendidikan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan juga terus memberikan pelajaran yang sesuai dengan zamannya. Saat ini, di era teknologi, maka mau tak mau anak-anak diajak memanfaatkannya dalam pembelajaran.

“Kurikulum di era milenial ini kan memanfaatkan teknologi. Jadi harus mengarah ke sana tapi juga tetap memperhatikan kultur,” kata Padmaningrum.

(Ags)

Berikan Komentar

avatar
  Subscribe  
Notify of