Wilayah Jateng Disebut Rawan Longsor, Mana Saja?

0
Kepala Dinas ESDM Provinsi Jateng Sujarwanto Dwiatmoko. Foto: Ade Lukmono/Semaranginside.com

Oleh: Ade Lukmono

Semaranginside.com, Semarang – Memasuki musim penghujan, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengantisipasi adanya tanah longsor yang berpotensi menimbulkan korban. Kepala Dinas ESDM Provinsi Jateng Sujarwanto Dwiatmoko mengatakan pihaknya telah menginventarisir beberapa wilayah yang rawan yang sebagian besar adalah daerah perbukitan.

“Beberapa daerah yang kami inventarisir berpotensi longsor di antaranya Wonosobo, Banjarnegera, Purbalingga bagian tenggara, Pemalang bagian selatan, Banyumas, Magelang bagian utara dan daerah lain yang dekat dengan lereng,” kata Sujarwanto, Rabu (13/11).

Dia menyebutkan, di daerah daerah yang dirasa kronis sudah dipasang alat bernama Early Warning System (EWS). Masyarakat setempat diminta untuk menjaga alat tersebut agar berfungsi secara maksimal.

“Jangan malah dicuri, dirusak atau diambil baterainya. Kalau sewaktu-waktu ada bencana bisa repot nantinya. Kalau masyarakat menemukan adanya kerusakan di alat tersebut, koordinasikan dengan BPBD setempat,” katanya.

Baca Juga:  April, Tiap Hari Bencana Melanda

Dia mengatakan, di awal musim hujan tahun ini, sudah ada dua longsor yang terjadi di dekat permukiman warga, yaitu di daerah Banjarnegara yang menimpa rumah dan daerah Magelang yang terjadi di samping rumah warga.

“Sebenarnya longsor itu fenomena geologi biasa. Namun bisa menjadi bencana jika longsor sampai mengakibatkan korban jiwa,” ungkapnya.

Oleh karena itu, pihaknya meminta masyarakat waspada jika di daerah rawan tersebut terjadi hujan dengan intensitas tinggi dengan durasi lebih dari dua jam.

“Kalau ada hujan lebih dari 2 jam di daerah perbukitan, masyarakat harus waspada. Kalau bisa jangan tidur dan amati apa yang kira-kira akan terjadi,” ungkapnya.

Sedangkan sebelum hujan tiba, masyarakat dan pemerintah daerah telah diminta untuk memperhatikan drainase karena aliran air yang tidak terkendali adalah penyebab utama terjadinya tanah longsor.

Baca Juga:  Pentingnya Air dan Sanitasi Pascabencana

Retakan di lereng-lereng gunung juga diminta untuk diperhatikan secara serius. Retakan tersebut akan rawan terjadi longsor jika terkena air dengan intensitas tinggi.

Tidak hanya itu, bambu di lereng-lereng gunung dikatakannya bisa memicu longsor. “Biasanya ketika hujan akan diikuti angin. Bambu akan dengan mudah tertiup angin, cengkraman akar bambu akan membuat retakan sehingga bisa terjadi longsor. Oleh karena itu, ada baiknya bambu di lereng gunung dipotong saja tetapi jangan sampai akar-akarnya agar tidak mudah tertiup angin saat hujan,” imbuhnya.

Masyarakat juga bisa memasang sendiri alat sederhana pendeteksi longsor. Daerah retakan yang berpotensi tejadi longsor bisa dipasangi pasak dan tali yang tehubung satu sama lain. Apabila tali tersebut semakin kencang, bisa diindikasikan tanah tersebut bergerak dan bisa saja terjadi longsor.

(Ags)

Berikan Komentar

avatar
  Subscribe  
Notify of