Wow… Bajakah Sudah Dijual Hingga Jutaan Rupiah Per Kilogram

0
Pohon Bajakah terancam kelestariannya di habitat aslinya jika dieksploitasi besar-besaran. Foto: Istimewa

Oleh: Eko P

Semaranginside.com, Jakarta – Meski belum terbukti secara klinis, namun kabar viral penemuan obat kanker dari tanaman bajakah oleh siswa SMAN Palangkaraya membuat tumbuhan ini diburu oleh banyak orang. Tanaman ini bahkan dipasarkan mulai dari harga puluhan ribu hingga Rp2 juta per kilo.

Kabar viral ini bermula dari keberhasilan dua siswa SMAN 2 Palangkaraya, Kalimantan Tengah, meraih medali emas dalam ajang World Invention Olympic (WICO) di Seoul, Korea Selatan pada 2019 lalu atas temuan obat anti kanker dengan bahan baku alami berupa batang pohon tunggal atau dalam bahasa dayak disebut dengan Bajakah.

Temuan ini pun langsung memicu minat orang yang tergiur dengan klaim khasiat pengobatan dari tanaman tersebut. Diberitakan di kota Palangkaraya bermunculan penjual kayu akar bajakah dadakan di pinggir jalan.

Tidak hanya didalam negeri, sebuah media lokal di Kalimantan Tengah memberitakan seorang warga mengaku telah mendapat pesanan kayu bajakah dari Cina dengan jumlah tidak tanggung-tanggung satu kontainer.

Namun, banyak kalangan khawatir kelestarian tanaman ini di alam terancam.

Salah seorang yang diwawancarai ABC News, Bobby Gunadi, warga kecamatan Pengkada, kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat mengaku langsung dihubungi sejumlah kenalannya yang menyatakan bisa menyediakan tanaman bajakah itu. Mereka minta Bobby membantu pemasarannya secara online.

Bobby pun bersedia dan mulai memajang produk kayu Bajakah itu di toko online miliknya dan dalam tempo singkat banyak sekali peminat yang menghubunginya.

“Lagi viral bajakah sekarang, jadi banyak sekali yang pesan malah orang kampung kami yang mengambilkan tanaman itu di hutan kewalahan. Dalam 3 hari saya sudah kirim 200 kilo ke banyak daerah, 50% ke Jawa.” tuturnya.

Baca Juga:  Akar Herbal Bajakah Obat Kanker

Padahal tanaman bajakah itu dipasarkan dengan harga yang tidak murah, ia membanderolnya Rp 1 juta per kilo.

“Tanaman ini mahal karena dihitung ongkos mengambilnya ke hutan yang susah. Warga harus jalan kira-kira setengah hari ke tengah hutan. Bajakah di daerah saya banyak, di belakang rumah juga ada yang tumbuh, tapi yang bagus itu ada di hutan di dekat lahan yang berair dan tanah gambut, seperti di daerah kalimantan tengah, jadi jauh mengambilnya,” tutur Bobby.

Sebagai warga Kapuas Hulu asli, Bobby menyebutkan jika Bajakah sudah lama digunakan sebagai tanaman obat oleh warga di daerahnya.

“Bagi orang kami, bajakah ini sudah biasa dijadikan obat. biasanya untuk obat kencing manis dan demam juga. Warga biasanya meminum air yang langsung diambil dari batangnya. Satu batang ukuran 1 meter itu biasanya dapat air satu gelas. Kami baru tahu dari TV kalau batangnya ternyata juga bisa dimanfaatkan.” tutur Bobby.

Bobby hanya satu dari sekian banyak orang yang mendapat berkah dari viralnya berita khasiat tanaman bajakah untuk mengobati kanker belakangan ini.

Kondisi ini memicu kekhawatiran akan kelestarian tanaman kaya khasiat itu dialam. Banyak pihak khawatir tanaman bajakah di alam akan dieksploitasi oleh orang-orang yang hendak mencari keuntungan dari situasi ini.

Kepala Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Joeni Setijo Rahajoe mengingatkan meski hasil penelitian siswi SMAN 2 Palangkaraya perlu diapresiasi namun warga diminta untuk tidak terjebak dalam euforia khasiat tanaman bajakah karena belum teruji secara klinis.

Baca Juga:  Akar Herbal Bajakah Obat Kanker

“Saya harap masyarakat bijaksana menyikapi khasiat tanaman bajakah yang sedang viral ini, karena apakah betul tanaman bajakah ini benar-benar terbukti bisa menyembuhkan kanker atau tidak, itu masih perlu melalui tahapan proses uji klinis yang panjang. Dan setahu saya kanker itu penyakit yang tidak mudah proses penyembuhannya,” ujarnya.

Pakar ekologi hutan lulusan Universitas Hokkaido Jepang ini juga mengatakan untuk diakui sebagai obat kanker, tanaman bajakah masih perlu dilakukan pra klinis (melalui serangkaian uji hewan percobaan) hingga uji klinis pada manusia untuk menguji aspek keamanan dan khasiat. Baru setelah itu statusnya dari obat tradisional (jamu) bisa meningkat menjadi bentuk sediaan obat herbal terstandar maupun sediaan fitofarmaka.

Sementara tahapan itu belum dilakukan, Joeni mengingatkan risiko mengkonsumsi herbal ini bagi warga terutama pasien kanker yang hendak menjajal khasiat tanaman bajakah.

“Masyarakat perlu tahu, kalau obat herbal itu biasanya memerlukan proses yang lama untuk bisa menyembuhkan. Jadi tidak serta merta sembuh. Jadi pasien kanker maupun warga biasa tetap harus waspada.”

“Karena tanaman bajakah jenisnya sangat banyak, jenis apa yang digunakan dalam riset anak SMA itu apa kita tidak tahu. Dan saya perhatikan orang yang menjual kayu bajakah di sosmed itu terlihat bahwa itu jenisnya berbeda-beda. Jadi harus hati-hati, beda jenis beda khasiat. Bahkan ada yang mengingatkan ada jenis yang justru beracun,” tuturnya. (EP/INI-Network)

Berikan Komentar

avatar
  Subscribe  
Notify of